Sadar atau tidak, kita telah mengikuti antagonisme pendidikan “gaya bank” : guru mengajar, murid belajar, guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa – apa, guru berpikir murid dipikirkan, guru bicara murid mendengarkan, guru mengatur murid diatur, guru memilih dan memaksakan pilihannya murid menuruti, guru bertindak murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya, guru memilih apa yang akan diajarkan murid menyesuaikan diri, guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya murid mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid, guru adalah subyek proses belajar murid adalah obyeknya.
Dengan demikian tak pernah ada dialog, yang ada hanya monolog gaya butet. Tak ada kreatifitas yang ada hanya hafalan. Tak ada orisinalitas yang ada hanyalah peniruan dan pembajakan. tak ada kedaulatan yang ada hanyalah penjajahan. Tak ada percakapan “antardalang”, yang ada hanyalah seorang “dalang” dengan setumpuk “wayang”. Tak ada kemitraan, yang ada hanyalah majikan buruh atau tuan budak belian. Tak ada pemimpin sejati yang ada hanyalah manajer dan makelar, yang antara lain menguasai Departemen Pendidikan.
Sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang dalam beberapa dekade terakhir ini dapat kita harapkan dari sekolah dan universitas kecuali uang gedung yang mahal, gaji guru yang tidak manusiawi, terpinggirkannya ilmu – ilmu murni oleh ilmu – ilmu terapan yang laku dijual cepat, badut – badut serta makelar – makelar yang menjajakan gelar, dan ilusi – ilusi “sekolah unggul” atau “sekolah pemimpin masa depan”. Kita tidak pernah tahu mengapa Pancasila dan kewajiban mengikuti penatarannya yang sekian puluh atau sekian ratus jam itu tidak melahirkan orang – orang yang punya budi pekerti, bermoral dan berkarakter terpuji. Kita tidak pernah sungguh – sungguh tahu apa itu “pelacuran intelektual” dan apa bedanya dengan “pengkhianatan intelektual” atau bagaimana seharusnya “peran intelektual” itu. Kita tidak pernah tahu mengapa sekolah maupun universitas tidak pernah membuat orang menjadi terbuka pikirannya, apalagi yang peka nuraninya.
Akan tetapi, kita tahu bahwa baik sekolah maupun universitas yang kita bangun dan kita subsidi supaya dianggap bangsa yang beradab ternyata lebih banyak melahirkan manusia – manusia “biadab”.
bersambung
“Menjadi Manusia Pembelajar”
ANDREAS HAREFA